Home Kisah Ini dia 7 Tips Berhemat ala Ibu Ibu Jepang yang bisa bikin...

Ini dia 7 Tips Berhemat ala Ibu Ibu Jepang yang bisa bikin Suami tersenyum bahagia, Mau coba juga?

SHARE
Loading...

Jepang merupakan negara maju dengan tingkatan ekonomi yang cukup tinggi. Tidak hanya tempat tinggal, namun juga kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman, harganya lumayan mencekik jika dibandingkan dengan negara berkembang. Oleh karenanya, orang-orang di Negeri Bunga Sakura wajib berhemat. Orang yang bertanggung jawab menghemat pengeluaran kebutuhan rumah tangga tentu saja seorang istri. Apakah ada tips hemat dari istri orang Jepang yang bisa kita pelajari?

Ya, ternyata ada tips hemat dari istri orang Jepang! Bagaimana pun, budaya hemat begitu dipegang teguh oleh para ibu rumah tangga di Negeri Matahari Terbit. Budaya ini sudah diajarkan sejak kecil oleh para orangtua di sana, seperti menabung dan diberi jatah jajan bulanan untuk dikelola sendiri. Nah, di bawah ini akan disebutkan bagaimana cerdiknya para wanita Jepang dalam mengatur pengeluaran. Jadi, tunggu apalagi? Ayo, gulirlah ke bawah! Tips-tips berikut akan membuat Minasan ingin segera menikahi orang Jepang!

Loading...

1. Tarik Tunai Semua Saldo Rekening

Banyak para ibu rumah tangga di sana yang melakukan tarik tunai dari semua saldo yang ada di rekening suami. Sekilas memang terdengar seperti lintah darat, namun ada alasan mengapa hal tersebut dilakukan. Alasannya, agar lebih mudah dikelola. Tidak seperti ibu rumah tangga pada umumnya, yang malah pecicilan kalau lihat uang tunai dan foya-foya dengan alasan ‘membeli barang kebutuhan rumah tangga bulanan’, maka istri orang Jepang tidak begitu. Mereka akan membagi uang tunai tersebut ke dalam beberapa kategori demi terpenuhinya semua kebutuhan.

Ada wadah-wadah tersendiri yang dibuat oleh istri orang Jepang untuk menempatkan pembagian uang tunai dari saldo rekening suami ke dalam beberapa kategori kebutuhan. Contohnya, kategori kebutuhan pokok atau primer seperti pangan, anak sekolah, modal suami, pembayaran wajib bulanan meliputi listrik, air, pajak, dan transportasi. Kemudian kategori kebutuhan sekunder seperti pakaian, buku-buku, les ajar, biaya ponsel, hobi anak, dan lainnya. Terakhir adalah kategori kebutuhan tersier seperti perabotan rumah tangga dan alat-alat elektronik.

2. Membuat Daftar Belanja

Setelah membagi pendapatan sang suami ke dalam beberapa kategori, maka selanjutnya istri orang Jepang akan membuat daftar belanja yang cukup mendetail. Mereka akan mengurutkan daftar belanja berdasarkan tingkatan keperluannya. Misalkan, jika semua daftar belanja yang ‘sangat diperlukan’ seperti beras, buah atau sayuran, daging, dan lainnya sudah terceklis, maka selanjutnya beralih ke daftar belanja yang ‘cukup diperlukan’ seperti peralatan dapur. Sesudah itu, ada lagi yang dinamakan daftar ‘tidak terlalu diperlukan’ sebagai opsi kalau uang belanjanya masih sisa.

Nah, hebatnya, para ibu rumah tangga di sana tidak akan pernah masuk ke pasar atau swalayan modern tanpa membawa daftar belanja. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari pembelian yang tidak sesuai keperluan. Kebiasaan membuat daftar belanja sebelum ke pasar sudah tertanam sejak lama, bahkan telah ada ketika kerajaan-kerajaan masih menguasai daratan Jepang. Salah satu contoh kebiasaaan ini sering diperlihatkan pada animasi Crayon Shinchan, yakni ketika ibu dari Shinchan akan berbelanja ke pasar, wanita tersebut selalu terlihat membuat daftar belanja di secarik kertas terlebih dahulu.

3. Membandingkan Harga Demi Kualitas

Sebenarnya, para ibu rumah tangga di Indonesia juga sering melakukan hal ini. Namun bedanya, para istri di sini masih terpatok pada harga murah, mementingkan merk, hingga akhirnya mengabaikan kualitas. Beda dengan para istri di sana, mereka membandingkan harga demi mendapatkan kualitas yang sama. Jika ada barang dengan harga lebih murah, dan kualitasnya sama dengan yang lain, kenapa tidak? Istri orang Jepang tidak mendewakan merk, tapi mendewakan kualitas. Oleh karenanya, yang bermerk di Jepang biasanya yang kualitasnya patut diacungi jempol.

4. Membawa Botol Air Minum Sendiri

Teman-teman kita mungkin akan menertawakan jika kita membawa botol air minum sendiri ke mana-mana. Kenapa demikian? Karena di sini, membawa botol air minum sendiri sering diartikan sebagai anak TK atau SD. Tapi, tidak dengan di Jepang. Di sana orang-orang sering membawa botol air minum ke mana pun dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Ini disebabkan istri orang Jepang selalu giat menyuruh kebiasan tersebut. Selain untuk mengurangi pengeluaran dalam membeli air minum, maka pemerintah juga terbantu karena mengurangi sampah plastik dari air minum kemasan. Kebiasaan kecil yang memberi dampak besar!

5. Cara Menabung

Ada sebuah cara unik ketika istri orang Jepang menabung. Mereka sangat merencanakan berapa nominal uang yang akan ditabung pada tiap periodenya dan dalam berapa periode sebuah tujuan akhirnya tercapai. Tips cara menghemat yang satu ini diawali dengan menentukan berapa total jumlah untuk tujuan. Contohnya, misalkan ingin membeli perabotan rumah tangga seharga 1 juta rupiah. Maka setiap minggu harus menyisihkan 200 ribu rupiah, dan dalam waktu sebulan lebih saja, maka perabotan rumah tangga tersebut berhasil dibeli. Cara menabung ala wanita Jepang tersebut sangat sederhana, namun perlu komitmen yang tinggi.

6. Uang Koin Harus Masuk Celengan

Tidak ada satu pun istri orang Jepang yang membuang uang koin di jalanan atau menaruhnya di suatu tempat hingga akhirnya hilang entah ke mana. Semua uang koin, yang tidak terlalu dibutuhkan, harus masuk celengan. Dompet bukanlah tempat yang tepat untuk menyimpan berjibun uang receh. Sebagian uang receh itu wajib ‘dimakan si babi mungil’ dan yang dibawa di dompet seadanya saja, agar suatu hari ketika dibutuhkan tambahan uang, maka isi perut celengan menjadi dewa penyelamat. Jika Minasan punya istri orang Jepang dan ketahuan sengaja menyepelekan uang koin, gagang sapu mungkin akan mampir di kepala!

7. Mengoleksi Untuk Dijual

Para istri orang Jepang yang punya hobi mengoleksi akan merelakan barang koleksinya dijual kembali. Ini dikarenakan pola pikir perempuan pengoleksi di Jepang yang lebih suka melepaskan barang lama untuk menerima barang baru. Wanita-wanita yang memimpin jalannya kebutuhan rumah tangga di Negeri Bunga Sakura juga tidak segan untuk menjual barang koleksi milik suaminya. Bahkan, beberapa di antaranya tidak akan memberitahu suaminya terlebih dahulu. Memang terdengar sadis, namun itu dilakukan untuk melahirkan rumah impian yang minimalis. Barang-barang koleksi yang terlalu banyak buat apa kalau bukan untuk dijual kembali?

Loading...